Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang
beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia berkhayal bisa bernyanyi
seperti burung. "Andai aku bisa bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang
mau mengajari aku bernyanyi ya?", tanyanya dalam hati.
Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit- derit. Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. "Suara apa ya itu?" kata harimau
Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit- derit. Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. "Suara apa ya itu?" kata harimau
"Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya
suaranya datang dari arah hutan bambu, lebih baik aku selidiki saja," ujar
si harimau. Suara semakin jelas ketika harimau sampai di hutan bambu. Ia
mendapati ternyata seekor kancil sedang terjepit diantara pohon-pohon bambu.
"Wah aku beruntung sekali hari ini, tanpa susah payah hidangan lezat sudah
tersedia", ujar harimau kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat
tubuh kancil yang gemuk. Kancil sangat ketakutan. "Apa yang harus
kulakukan agar bisa lolos dengan selamat?", pikir si kancil.
"Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku
yang kecil pasti tak akan mengenyangkanmu." "Aku tak perduli, aku
sudah lama menunggu kesempatan ini," ujar siharimau. Angin tiba-tiba
berhembus lagi, kriet....kriet... "Suara apa itu?", Tanya
Harimaupenasaran. "Itu suara seruling ajaibku," jawab kancil dengan
cepat. Otaknya yang cerdik telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri.
"Aku bersedia mengajarimu asalkanengkau tidak memangsaku, bagaimana?"
Tanya si kancil.
Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia memang
ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia berpikir meniup seruling tidak kalah
hebat dengan bernyanyi. Tangan si kancil pura-pura asyik memainkan seruling
seiring dengan hembusan angin. Sementara harimau memperhatikan dengan serius.
"Koq lagunya hanya seperti itu?", Tanya harimau. "ini baru nada
dasar", jawab kancil.
"Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu
batang bambu ini dari tubuhku",kata si kancil. Harimau melakukan apa yang
dikatakan kancil hingga akhirnya kancil terbebas dari jepitan pohon bambu.
"Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan lidahmu padabatang bambu ini.
Lalu tiuplah pelan-pelan", Kancil menerangkan dengan serius. "Jangan
heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapikalau lagi tidak ngadat
suaranya bagus lho." "Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia,
mana ada seruling ajaib," kata kancildalam hati. "Harimau yang telah
terjepit di antara batang bambu tidak menyadari bahwa iatelah ditipu si kancil.
"Kau mau pergi kemana, Cil?", Tanya harimau. "Aku mau minum
dulu,tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup seuling," jawab si
kancil. "Masa aku harusbelajar sendiri?", tanya harimau lagi.
"Aku pergi tidak lama, nanti waktu aku kembali, kauharus sudah bisa
meniupnya ya, jawab si kancil sambil pergi meninggalkan harimau. Setelah si
kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang.
Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit.
"Hore aku bisa!",
seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup,
lidah harimau menjaditerjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan
dan segera menarik lidahnya darijepitan batang bambu. "Wah ternyata aku
telah ditipu lagi oleh si kancil, betapa bodohnyaaku ini!, pasti bunyi
berderit-derit itu suara batang bambu yang bergesekan. "Grr, benar-benar
keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil", kata
harimau.
Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau
beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus kembali. Kriet..kriet..kriet
membuat batang-batang bambu saling bergesekan dan berderit-derit. Hal ini
membuat amarah harimau sedikit reda. Ia jadi mengantuk dan akhirnya tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi dapat meniup seruling asli. Membuat para binatang
menari dan menyanyi.
